Hidup Bertetangga Dengan Nyaman


Bagaimana hubungan Anda dengan tetangga ?

Semua orang pada umumnya memiliki tetangga. Tetangga di sini maksudnya bukan hanya tetangga rumah, bisa juga bagi yang masih kost, maka sebelah kamar kita adalah tetangga.  Interaksi dengan tetangga tentunya tidak sama bagi setiap orang,  namun pada garis besarnya, bisa kita bagi dua, yaitu orang yang berhubungan baik dengan tetangganya, dan orang yang bermasalah dengan tetangganya.

Pernah suatu ketika ada seorang teman bercerita  bahwa ia selalu bermasalah dengan tetangganya, si tetangga selalu ingin tahu urusan pribadinya. Bila teman saya membeli suatu barang maka omongan tetangga selalu ingin tahu, dan menggosip diluaran.  Saking risihnya, teman saya memutuskan untuk pindah rumah, namun ternyata, lagi-lagi dia bertemu kembali dengan tetangga yang karakternya hampir sama, meskipun pindah rumahnya sudah cukup jauh dari rumah lamanya.

Ada lagi teman saya yang  selalu memiliki tetangga yang suka bertengkar. Bahkan ketika dia pindah tugas ke pulau yang berbeda pun hal yang sama juga masih dia temui. Meskipun bukan bertengkar dengan dirinya. Tetangga tersebut bertengkar dengan pasangannya sendiri, namun teriakan pertengkaran yang ada sangatlah mengganggu, karena begitu keras dan tak jarang ada kekerasan juga.

Secara umum, apa yang dialami dua orang teman saya itu adalah hal yang lumrah. Ketika mereka mengeluhkan apa yang terjadi, biasanya komentar yang muncul adalah, ya, wajarlah, tetangga pastinya bermacam-macam. Ada yang baik, ada yang tidak baik. Sesuatu yang dianggap kewajaran bagi masyarakat, namun bagi yang menjalaninya langsung, pasti terasa sangat melelahkan.

Ketika sudah lelah seharian bekerja, harapan pulang ke rumah dapat beristirahat dan mendapat ketenangan, bila menemui kondisi bertetangga seperti yang dialami dua teman saya tadi, pastinya akan sangat melelahkan. Energi kita akan terkuras dan mengusik ketenangan kita. Bagaimanakah cara kita supaya terbebas dari kejadian yang berulang-ulang seperti diatas ?

Hidup nyaman bertetangga. Menyikapi hubungan dengan tetangga

Bunda Arsaningsih melalui metode SOUL Reflection, mengatakan bahwa, “Masalah yang muncul kembali menandakan kita belum mampu mengatasi masalah tersebut dengan tuntas dan benar. ” Jadi kenapa masalah itu muncul lagi? Kebanyakan dari kita, ketika mengalami masalah yang terus berulang, sumber masalah itu sebenarnya berada dalam diri. Tanpa kita sadari, alam ini selalu meletakkan kita diantara orang-orang yang memiliki karakter mirip dengan diri kita.

Mungkin saat bertemu dengan hal-hal yang tidak kita sukai, seperti dua kejadian di atas, sering akan menyangkal, “Saya kan tidak begitu, saya tidak suka menggosip, saya tidak suka bertengkar.” Namun, itu adalah pikiran sadar kita yang mengatakan. Secara sadar kita hanya menginginkan hal-hal baik saja yang datang pada diri kita, padahal sebenarnya kita memiliki hal lain yang jauh tersimpan di pikiran bawah sadar kita, yang mana hal itu merupakan rekaman yang kita bawa sejak awal kita diciptakan Tuhan. Dan wajar, bila orang selalu merasa dirinya baik.

Namun dengan kejadian berulang yang menimpa diri kita, alangkah bijaksana bila kita mau melakukan refleksi diri melalui perenungan batin kenapa hal tersebut terjadi.  Bahwa sejatinya, tidak ada manusia yang sempurna, jujur mengakui bahwa kita pun tak pernah luput dari keburukan-keburukan, bukan hanya keburukan tindakan, namun bisa jadi baru sebatas berpikir buruk atau secara tak sadar menciptakan emosi yang hanya kita pendam. Tuhan tidak pernah salah menempatkan kita. Bila kita merasa berada di tempat yang salah, maka kita harus mawas diri, jangan-jangan diri kita banyak memendam hal buruk, sehingga Tuhan menempatkan kita di tempat tersebut. Amati hal tersebut. Lakukan perenungan batin, perlahan sadari hal-hal buruk yang secara sengaja maupun tidak telah kita ciptakan di pikiran, memaafkan semua orang yang pernah terlibat dalam hidup kita, khususnya para tetangga tersebut dan juga mintalah maaf pada mereka atas kesalahan yang mungkin tanpa kita sadari sudah kita perbuat, meskipun hanya sebuah makian yang tak terlontar, menggosip di dalam pikiran kita sendiri.

Hal ini tak bisa dilakukan sekali saja, namun secara rutin lakukan terus setiap hari. Selain itu ubahlah pola pikir kita terhadap para tetangga. Berpikirlah yang lebih positif, dengan memahami bahwa mereka juga sedang belajar menjalani hidup, belajar bertetangga. Doakan mereka agar menjadi lebih baik. Mulailah perubahan-perubahan dari diri kita sendiri, dan bersabarlah hingga suatu saat kita akan melihat perubahan terjadi dalam kehidupan bertetangga kita. Penuhi diri dengan cinta dan kedamaian terlebih dahulu, maka lingkungan sekitar kita akan mengikuti.

 

Rina Khusnawati

 

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *