Jebakan besar dalam bertumbuh yang harus kita hindari.

Kita selalu ingin menjadi pribadi yang lebih baik. Dalam proses menjadi lebih baik itu, kita memerlukan contoh, atau bahasa kerennya role model. Mungkin kamu gak sadar, tapi coba deh lihat, apa pun kualitas yang kamu miliki saat ini, pasti merupakan adapatasi, bahkan lebih baik lagi, pengembangan dari apa yang kamu pelajari dari orang lain. tulisan saya saat ini akan berusaha membedah tentang bagaimana sikap yang baik dalam memaksimalkan proses belajar ini.

Panutan atau Guru?

Ilmu NLP menyatakan bahwa proses pembelajaran dimulai dari yang meniru pribadi yang sudah ada, proses ini disebut dengan modeling. Namun yang saya amati, tidak semua orang yang mendapat pengaruh dari model tertentu akan terbentuk menjadi pribadi yang mirip, ada juga beberapa orang yang melihat suatu hal buruk dari seseorang, yang akan membuat orang tersebut terbentuk menjadi sebaliknya. Misalnya seseorang yang dari dulu diremehkan, dimaki dan dicemooh orang bukan berkembang menjadi pribadi yang sama, tapi menjadi pribadi yang sangat bisa menghargai orang, karena dia belajar bagaimana rasanya dicemooh dan dia tidak mau orang lain merasakan hal yang sama.

 

Karena proses belajar tidak semata mata meniru apa yang dilakukan orang lain, saya merasa bahasa yang tepat bukan role model, tapi guru. Seorang guru adalah seseorang yang mengajarkan sesuatu kepada kita. Dan semua orang yang kita temui adalah guru untuk diri kita. Kita bisa melihat kualitas yang baik dan menirunya, atau bisa juga kita melihat kualitas yang kurang baik dan memastikan kita tidak berkembang menjadi orang yang sama. Yang mana pun proses yang kita ambil, kita tetap belajar, dan karena itu, saya lebih memilih istilah guru.

Guru Dan Nilai

Dalam proses kita belajar kepada guru-guru yang kita te

source : https://skydancingblog.com/2014/03/01/lazy-saturday-reads-weather-spring-fever-boston-bombing-ukraine-and-true-detective-spoilers/calvin-war/

mui, ada jebakan yang akan kita jumpai. Bisa atau tidaknya melihat dan mengatasi jebakan itu akan menjadi pembeda antara kita belajar secara maksimal dan menjadi lebih baik, bertumbuh secara tidak maksmal, jalan di tempat, atau malah berjalan mundur.

Setiap guru, sadar atau pun tidak, pasti mengajarkan nilai-nilai. Kita bisa lihat hal ini di Pancasila yang disusun oleh Bung Karno, sila-sila yang diajarkan oleh Sang Budha, Sumpah Hipocrates yang disusun oleh hipocrates, Cashflow Quadrant yang disusun oleh Robert T Kiyosaki, dan nila- nilai lain yang ditunjukan oleh para guru. Mungkin juga nilai tersebut tidak dituliskan, tapi nilai kejujuran yang dibawa oleh teman kita, atau nilai kasih sayang yang dibawa oleh ibu kita, semuanya tanpa sadar mengajarkan sebuah nilai, bahkan diri kita pun sebenarnya adalah kumpulan dari banyak nilai.

Jebakan Besar Yang Harus Dihindari

Dari semua orang yang belajar (secara langsung maupun tidak langsung) dengan guru-guru tersebut, akan ada yang fokus pada figur gurunya, dan akan ada yang fokus pada nilai yang diajarkanya.

Pada saat guru itu masih bisa mengajarkan nilai itu secara langsung, tidak akan ada banyak masalah, masalah biasanya timbul saat sang guru tidak lagi bisa mengajarkan secara langsung, baik karena alasan jarak atau dengan alasan lain.

Misalkan sang guru tidak dapat mengajarkan lagi secara langsung, yang mungkin terjadi adalah :

  • Ada yang langsung meninggalkan apa yang dipelajari. Hal ini terjadi karena yang dilihat sepenuhnya adalah sosok guru itu, begitu guru itu tidak dapat mengajarkan secara langsung, mereka akan mencari sosok lain yang bisa mengajarkan secara langsung. Kelompok ini agak susah untuk bertumbuh secara mandiri, karena benar-benar tergantung dari figur guru tersebut, dan tidak akan pernah ada guru yang hidup selamanya.
  • Ada beberapa yang masih mengagumi beliau, tapi malah menjadi fanatik dan membela beliau mati-matian, tapi tidak melihat nilai yang beliau ajarkan, mereka terjebak hanya pada memuja figurnya. Orang tipe ini akan tersulut pada saat ada orang yang berbicara kurang baik tentang gurunya, ada kecenderungan berusaha membela, namun beberapa diantaranya tanpa disadari malah melanggar nilai yang diajarkan-nya. Ini adalah hal yang paling kita hindari, karena tanpa sadar, malah mencoreng nama gurunya sendiri.
  • Ada juga kelompok yang menghormati nilai ini, dan membaca dan menghapalakan nilai nilai yang ditinggalkan, tapi tidak mengamalkan nilai tersebut. Kelompok ini berusaha melestarikan nilai yang diajarkan oleh gurunya, namun sayang, dengan tidak mengamalkan nilai tersebut, perlahan kekuatan nilai tersebut akan memudar, karena yang terpenting sebenarnya bukan apa yang dituliskan tapi apa yang diamalkan. Apabila terus berlanjut, bisa saja nilai tersebut berubah menjadi sebuah slogan tanpa makna.
  • Ada yang tetap menghormati figure tersebut, mengamalkan apa nilai yang dipelajari dan bahkan menginspirasi orang lain untuk bisa belajar nilai itu dari dirinya. Tidak menutup kemungkinan, orang tipe ini akan dapat menemukan pengembangan dari nilai nilai yang diajarkan oleh gurunya.

Mungkin akan ada kemungkinan kemungkinan lain, namun dari empat kemungkinan yang saya petakan di atas, yang benar benar bisa bertumbuh dengan maksimal adalah golongan terakhir. Mereka yang sebenarnya masih tetap bersama figur dan nilai gurunya, yang hidup dalam diri mereka.

Hal tersebut adalah jebakan yang mungkin akan kita hadapi dalam diri kita, dalam kasus saya, salah satu nilai yang saya pegang adalah nilai yang diajarkan oleh Sean Covey, yaitu hanya ada berhasil dan feedback. Dan walaupun saya tidak bertemu langsung dengan beliau, saya selalu mengusahakan diri saya untuk terus bertumbuh, apapun yang saya terima selain keberhasilan adalah sebuah feedback yang membuat saya menjadi lebih baik dan lebih baik

Bagaimana menurut teman teman semua? Yuk bagikan di kolom komentar.