Tentu Anda pernah mendengar pepatah “memberi lebih baik dari pada menerima”? Pepatah itu memang sudah ditanamkan sejak kecil untuk melatih kita agar lebih bisa memberi. Tapi ternyata tanpa disadari, pepatah itu membuat banyak orang susah untuk menerima.

Kenapa susah menerima? Beberapa orang beranggapan bahwa hanya orang lemah yang menerima bantuan, beberapa berpikir bahwa saat kita menerima bantuan atau pemberian orang lain, kita merepotkan orang tersebut. beberapa orang lagi berpikir bahwa dengan menerima sesuatu, kita tidak mandiri. Well, banyak sekali pikiran pikiran yang menyebabkan kita tidak dapat menerima, tapi apakah pemikiran tersebut adalah sebuah kebenaran? atau sebuah pembenaran?

Yuk kita lihat lagi.

Apakah memberi lebih baik dari pada menerima

Sadarkah kalau memberi dan menerima itu adalah satu paket. Seperti sisi yang berbeda dari satu keping mata uang, kita tidak dapat memberi tanpa ada yang menerima. Begitu juga kita tidak akan dapat menerima tanpa ada yang memberi. Ini seperti perdebatan klasik antara telur dan ayam. mana yang lebih dahulu ada, telur atau ayam.

Di ajaran mana pun diajarkan bahwa kita harus banyak memberi.  Beberapa ajaran diajarkan dengan konsep pahala, beberapa dengan konsep hukum tabur-tuai (karma), dan beberapa tidak menjelaskan mengapa, pokoknya lakukan saja. Semuanya benar. Nah, sekarang bayangkan kalau kita ingin mengamalkan ajaran yang kita yakini dan memberi kepada seseorang, namun orang tersebut tidak mau menerima pemberian kita. Bisa kah kita mengamalkannya? Tentu tidak bisa.

Dari penjelasan diatas, kita dapat pahami bahwa dengan menerima pemberian, kita juga berperan pada proses pemberi menjadi lebih baik, entah dengan dasar pahala, karma ataupun konsep konsep yang lain. Karena tanpa ada orang yang menerima, tidak akan ada pemberian, tidak akan ada sesuatu yang mengalir.

Jadi masih berpikir memberi lebih baik daripada menerima?

 

“Dengan menerima pemberian, kita juga berperan pada proses si pemberi menjadi lebih baik”

dr. Rastho mahotama

Hanya itu? Ada alasan lain mengapa kita tidak boleh melihat proses menerima dengan sebelah mata. Alasan tersebut adalah sumber dari apa yang kita beri.

Dari tulisan saya sebelumnya, Mengapa Kehilangan Itu Menyakitkan, saya sudah jelaskan bahwa semua yang kita anggap kita miliki sebenarnya adalah milik Sang Sumber, Sang Tunggal, Tuhan Yang Maha Esa (entah Anda memanggilNya dengan nama yang mana). Jadi sebenarnya kita tidak memiliki apa apa. Pertanyaan saya berikutnya, bagaimana tanpa memiliki apa apa kita dapat memberikan sesuatu? tentu saja tidak mungkin. Karena itu proses pertama adalah MENERIMA. menerima dari Tuhan, entah perantara apa yang Ia gunakan untuk menyampaikan ke kita, baru kita dapat memberi ke orang lain. Tentu dalam proses kita memberi, kita juga adalah perantaraNya untuk memberikan apa yang Ia miliki kepada ciptaanNya yang lain.

Well, ternyata dari proses sekecil itu dapat di bahas sedalam ini ya,, hehehe

Lalu bagaimana dengan pepatah di awal artikel, “Memberi lebih baik daripada menerima”?

Pada saat saya mengikuti salah satu seminar di Singapura, salah satu trainer menyatakan bahwa pepatah tersebut tidak sepenuhnya benar. Makna sebenarnya hilang pada saat proses penerjemahan, karena sebenarnya makna pepatah tersebut adalah “Lebih baik berada dalam kondisi dimana kita bisa memberi, daparipada kondisi dimana kita harus menerima” well, benar atau tidak, saya tidak tahu, karena sampai tulisan ini saya post, saya masih belum menemukan refrensi serupa.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya sangat berterimakasih pada guru-guru saya yang membuat saya dapat mengulas hal ini. Terutama Bunda Arsaningsih, Founder dari SOUL, yang mengajarkan tentang bagaimana mengelola pikiran, perasaan dan pemahaman energinya, dan T. Harv Eker yang memberi gambaran baru tentang peribahasa yang ternyata memiliki pemahaman yang lebih dari yang saya tahu.

Semoga tulisan ini dapat membantu pembaca menjadi lebih baik. Dan ingat untuk komen di bawah, dan share artikel ini jika memang berguna.

Terimakasih